Total Pageviews

July 28, 2015

Afirmasi

Aku bisa menulis jutaan puisi dan berlembar-lembar surat cinta untuk kamu baca. Namun, aku yakin kamu tetap tidak akan mengerti perasaanku yang sebenarnya.



Ini bukan masalah komprehensi, bukan juga tentang inteligensi. Ini soal rasa yang tidak terjangkau logika manusia. Ini soal getar isyarat tak terbaca dalam sela rusuk Adam.

Abstrak.

Imajiner.

Dan kita, seperti manusia lainnya, selalu takut akan semua hal yang tidak kita pahami. Selalu menghindari ketidakmengertian. Selalu hanya memercayai apa yang ingin kita percayai.

Mana mungkin kamu menerima sesuatu yang tidak kamu pahami? Jadi, patutkah aku marah kepadamu ketika kamu tidak bisa menerima perasaanku yang tidak pernah kamu mengerti?

Seperti yang selalu kamu bilang, ini bukan tentang siapa yang pantas untuk siapa atau siapa yang tidak pantas untuk siapa. Aku bukannya tidak pantas untukmu. Kamu bukannya tidak pantas untukku. Aku bukannya tidak bisa jadi imammu. Kamu bukannya tidak mau jadi makmumku. Perseberangan dan keterpisahan kita—padahal kita sangat dekat—murni karena kamu tidak pernah memahami perasaanku.

Untuk apa mempelajari perasaanku? Tidak ada untungnya. Tidak ada nilai ibadahnya. Dan walaupun kamu sudi meliriknya, toh perasaanku sungguh tak terperi. Manusia mana yang bisa memahaminya? Mungkin Allah menciptakan rasa itu hanya untuk bisa dimengerti diri-Nya sendiri. Semua tindakanmu itu sangat berterima. Jadi, aku memang tak berhak marah atau protes.

Mungkin kamu pikir aku hanya mencari justifikasi, pembenaran, alasan, atau apa pun namanya. Mungkin kamu juga berpikir ini hanya obsesi seorang cowok sinting. Sebutlah aku memang begitu. Namun, pernahkah satu kali saja di suatu malam, kamu menyertakan namaku dalam istikharah, meminta nasihat dan petunjuk Allah tentang semua ketidakmengertian ini?

Aku tidak sempurna. Bagimu atau bagi siapa saja. Aku berlumur keraguan, kesesatan, dan dosa. Namun, bukan itu alasannya kamu menyisihkanku.


Bukan itu.


Wahai bidadari pemeluk subuh,
 telah kuminta Allah menunda fajarnya.
 Sekadar menyempatkan keringnya air mata tahajudmu. 

March 10, 2015

Mengapa “Birdman” Film Terbaik?


Mengejutkan. Tidak masuk akal. Tidak layak. Itulah yang dipikirkan banyak orang ketika “Birdman” dinobatkan sebagai film terbaik 2015. Mengapa film ini yang terpilih? Apa bagusnya?


Banyak yang bilang “Birdman” hanya dapat dinikmati seniman dan sineas tulen. Mungkin itu benar. Namun, jika kita memperluas sedikit mind-set kita dan mencoba berpikir sejenak seperti layaknya sineas tulen, mungkin akan terlihat seberkas cahaya yang menyapu semua kesangsian. Berikut poin-poin keunggulan “Birdman” yang mungkin luput dari apresiasi kita. Sekadar info, ini cuma apresiasi bebas yang amatir dan subjektif. So, feel free to criticize.

Genius Long Take


Satu dari empat penghargaan yang diborong “Birdman” adalah Best Cinematography. Teknik pengambilan gambar nonkonvensional ini diaplikasikan dengan apik oleh Emmanuel Lubezki. Meski tidak tergolong baru, teknik long take Lubezki sangat berbeda dengan para pendahulunya. Dari detik pertama hingga akhir, seolah—ya, seolah—seluruhnya diambil dalam SATU KALI take. Namun, semua sekuensinya sangat halus sehingga tampilannya benar-benar seperti satu kali take. Tidak ada angle yang tidak perlu. Satu kata untuk menggambarkannya: genius.



Semiotics Masterpiece



“Birdman” tidak dapat dimungkiri adalah ladang semiotika yang sangat kaya. (Sedikit catatan, semiotika sendiri secara sederhana dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari lambang-lambang). Hampir segala aspek dalam film ini merupakan pengejawantahan semiotika kompleks yang indah dan cerdas. Inilah yang menjadikan “Birdman” sebagai film dengan Best Original Screenplay. Tidak percaya? Mari kita kupas beberapa semiotika yang dimaksud, baik secara metafora maupun ironi/sinisme.

     Pemeran utama “Birdman” adalah Michael Keaton dan harus—ya, HARUS—Michael Keaton. Tidak bisa yang lain. Ini semata dilakukan Inarritu—sang sutradara—untuk mencapai efek semiotika yang dia inginkan. Apa itu?


Seperti yang kita tahu, Keaton adalah aktor terkenal tahun ‘90-an atas perannya sebagai Batman. Jika kita menoleh sedikit sejarah Keaton, ia mengambil peran Batman untuk dua film, yaitu “Batman” dan “Batman Returns”. Seketika, image Keaton pun berubah populer sebagai potrayal sang superhero. Ia pun sebenarnya dapat melanjutkan kepopuleran itu, tetapi ia memilih untuk menanggalkannya. Ia menolak untuk berperan dalam film Batman selanjutnya, yaitu “Batman Forever”. Akibatnya, franchise Batman yang saat itu diperankan Val Kilmer menurun drastis. Keaton sendiri sebenarnya ingin mencoba membuktikan bahwa tanpa menjadi Batman pun, ia akan tetap diperhitungkan—meski dalam kenyataannya tidak juga. Realita inilah yang diperlambangkan Inarritu. Coba pikirkan, semuanya cocok sekali:
·         Birdman adalah lambang dari Batman, yaitu sosok superhero yang ditanggalkan oleh pemerannya.
·         Riggan Thomson adalah lambang dari Michael Keaton, yaitu sosok yang menanggalkan popularitas franchise superhero demi sesuatu yang lain. 



Dalam film, digambarkan bahwa Riggan selalu tergoda untuk kembali menjadi sosok Birdman. Ia selalu tergoda akan ketenaran dan prestise di balik topeng Birdman. Secara psikologis, ini secara tidak langsung menciptakan alter-ego dirinya, yaitu Birdman sendiri. Saking nyatanya, Riggan bahkan memercayai bahwa Birdman beserta kekuatannya adalah nyata. Ini menjelaskan segala kekuatan telekinesis (melayang, melempar benda tanpa menyentuh) dalam beberapa adegan.
Harus kita akui, ini adalah perlambangan yang manis dan cerdas sekali. Sebuah satire bernilai artistik tinggi.

Dalam adegan awal, diceritakan pemeran utama dalam pertunjukan teater Riggan harus diganti. Nah, yang menarik adalah dialog ketika Riggan (Keaton) mencari pemeran pengganti tersebut. Semua calon aktor sudah dikontrak label-label terkenal yang benar-benar ada di dunia nyata, yaitu:
·         Hunger Games,
·         X-Men, dan
·         Iron Man.



Dialog ini adalah semacam “protes”, “kritik” atau “sindiran” akan realita dunia showbiz Hollywood yang makin lama hanya mementingkan uang dan popularitas dengan mengangkat nama-nama superhero termahsyur. Hal ini menyadarkan kita bahwa realita showbiz Hollywood memang kini cenderung memprioritaskan box-office income—dengan mengesampingkan seni perfilman yang sebenarnya. Harus diakui, masyarakat masa kini memang lebih suka menonton banyak aksi dan kilau special effect yang “kering” daripada adegan-adegan biasa namun berbobot. 



Nah, bagian terbaiknya, “sindiran” akan kepunahan seni film tidak berhenti sampai di sini. Akhirnya, Riggan menemukan aktor pengganti yang tepat. Coba tebak, siapa? Edward Norton! Kalau diingat-ingat, Norton pun pernah menjadi superhero dalam film “The Incredible Hulk”. Dari semua calon aktor Riggan sebelumnya yang tidak available, semua bermain sebagai superhero. Seolah-olah, yang akan ditemukan Riggan adalah aktor “biasa” yang tidak pernah menjadi superhero. Namun, nyatanya, Riggan justru mendapatkan Hulk. Ini jelas-jelas menyiratkan bahwa aktor-aktor terbaik pun harus berasal dari franchise terkenal dan tidak ada yang bisa mengubah realita itu.




Beralih ke OST. Sejak awal, soundtrack yang digunakan adalah drum jaz solo. Mengingatkan kita pada sesuatu? Ya, apalagi kalau bukan salah satu peraih Oscar lainnya, “Whiplash”. Film musikal ini memang bukan sekadar pertunjukan musik dengan panggung megah dan suara-suara emas semacam “Glee”.




“Whiplash” adalah film motivasi yang pesan moralnya sangat mudah dicerna, yaitu “push beyond the limit”. Adegan-adegan dalam “Whiplash” tidak flashy atau penuh dengan special effect, namun tetap bermakna dalam. Dengan kata lain, “Whiplash” adalah film tentang seni yang sebenarnya, berlawanan dengan film-film box-office yang disindir dalam “Birdman”.

Lantas, apa hubungannya “Birdman” yang menggunakan musik latar ala “Whiplash”? Sederhana saja. Inarritu mengakui “Whiplash” sebagai film teladan dan ia ingin keteladanan itu melatari tiap adegan dalam “Birdman”. Lebih dari keteladanan, Inarritu ingin semangat “push beyond the limit” menjadi latar dan atmosfer tiap adegan dalam “Birdman”. Dan jangan bilang ini bukan semiotika yang genius.

Berlanjut ke ending. Pada bagian akhir, Riggan menembak hidungnya. Mudah diterka, ini adalah semiotika sederhana dari “membunuh alter-ego”-nya, membunuh Sang Birdman. Hidung diperlambangkan sebagai “paruh” yang mendistingtifkan Riggan dan Birdman. Dengan membabat hidung/paruhnya, itu tandanya Riggan telah mengeliminasi sang alter-ego. Namun, apa yang terjadi pada adegan akhir yang menjadi ending paling ambigu dan diperdebatkan sepanjang tahun? Digambarkan, Riggan menghilang dari kamar. Putrinya melihat ke luar jendela yang terbuka. Tidak lama, putrinya melihat KE LANGIT—ya, ke LANGIT—sambil tersenyum penuh kebanggaan. Apa itu?



Penjelasan sederhananya adalah, Riggan melayang di langit seperti saat ketika di pertengahan film. Namun, tentu saja itu tidak masuk akal. Saat di tengah film, Riggan memang melayang, tetapi itu hanya dalam fantasinya. Nyatanya, dia cuma naik taksi. Lalu, apakah adegan terakhir itu fantasinya juga?

Ada banyak perdebatan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada akhir film ini. Namun, interpretasi yang menurutku paling masuk akal begini: Saat menembak dirinya sendiri, dia bukan menembak hidung, melainkan kepala. Jadi, dalam adegan penembakan ini, sebenarnya Riggan telah mati. Nah, adegan setelah itu SEMUANYA adalah fantasi Riggan, seperti saat ia merasa melayang dan melihat garuda raksasa di atas gedung. Ini jadi masuk akal karena tiap kejadian setelah penembakan sangat indah dan merupakan perwujudan semua harapan Riggan, yaitu dia tidak mati, disayangi istri, putri, menjadi tenar, dan dapat melayang-layang sesuka hati. Ending yang fantastis, dalam arti yang sebenarnya: FANTASTIS!

Jadi, ini memang bukan film yang kosong, melainkan film tentang kekosongan itu sendiri. Ini adalah premis dunia nyata tempat kita hidup saat ini. Bahkan ini adalah premis dari kita semua, manusia, yang selalu mendamba untuk terbang dan menggapai kemustahilan.
Ini adalah BIRDMAN.

December 14, 2014

"Once Upon a Time in Shanghai", Underrated yet Riveting Movie




Setelah menonton beberapa film gagal Donnie Yen--sebut saja "Monkey King", "Special ID", atau bahkan "The Iceman"--aku disajikan "Kung Fu Jungle" yang ternyata memang menjadi ajang come back sang maestro. Namun, mungkin banyak yang belum tahu bahwa beberapa waktu sebelumnya telah dirilis film kung fu yang jauh lebih keren. Judulnya "Once Upon a Time in Shanghai". Mengapa film underrated ini kunilai lebih keren dari "Kung Fu Jungle"?


Koreografi Edan

Koreo apik yang membuat kita terpana disajikan secara pas dan tidak berlebihan.
Sommersault kick, signature move aliran Jeet Kune Do.


Esensi film kung fu tentu saja adalah ... kung fu-nya. Koreografi kung fu dalam "Once Upon a Time in Shanghai" (selanjutnya disingkat OUTIS) sangat rapi. Detail tiap gerakan sangat jelas terlihat. Tiap gerakan sangat cantik dan sedap dipandang.Penempatan bullet time sangat pas dan tidak berlebihan seperti halnya di "300"-nya Zack Snyder. Major crowd teaser, literally. Oh, ya. Jangan terpaku pada style peran utama yang mirip Bruce Lee atau pada gerakan-gerakan jeet kune-do-nya. Shanghai 1930-an dan jagoan tipe Bruce Lee kebanyakan memang adalah satu paket--ingat-ingat lagi serial "Fist of Fury"-nya Donnie Yen.



Background dan Atmosfer-nya "Dapet" 


Shanghai 1930-an adalah tentang klub malam, penyanyi cantik, dan geng-geng bertuksedo.

Dengan formula yang sederhana, OUTIS berhasil mereplika atmosfer Shanghai 1930-an. Mungkin memang tidak 100% detailnya terpenuhi. Namun, aspek-aspek background yang diperlukan semuanya telah tercapai. Bagian yang paling mencolok dan membangkitkan suasana adalah ketika biduan menyanyikan lagu Kanton klasik yang menggema indah di klub malam. Kostum dan kendaraannya juga sangat mendukung.



Plot Rapi, Twist Ending



Mayoritas film kung fu mengesampingkan cerita dan plot. Produser selalu berpikir, "yang penting 'kan berantemnya!" Well, mereka tidak terlalu salah juga, sih. Tapi alangkah baiknya jika film kung fu yang memang utamanya berantem, diberikan motif yang kuat tentang mengapa si jagoan ini "harus" berantem. Ada permainan emosi sehingga penonton bisa gregetan, bisa merasakan kemarahan dan keharusan si jagoan untuk menghajar si penjahat. Kapan, ya, terakhir kali kita nonton film, terus kita ikut kesal dan marah dan ingin mendaratkan sejuta jurus kepada si penjahat? Nah, OUTIS menawarkan plot yang seperti itu, mengaduk-aduk perasaan penonton.

Plot sederhana ini memang sangat mudah diikuti siapa saja, namun jangan tertipu. Endingnya tidak tertebak. Hal ini menjadikan nilai tambah tersendiri (well, tiap film yang endingnya tertebak kan memang jadi tidak menarik lagi).


Rival

Mungkin ini adalah poin terpenting yang jadi kekuatan utama OUTIS. Yeah, apalagi kalau bukan RIVAL. Formula rival ini selalu--ya, SELALU--membawa kesuksesan bagi cerita yang mengimplementasikannya dengan baik. Anime-anime sukses selalu menggunakan formula ini. Sebut saja Dragon Ball dengan Son Goku vs Vegeta. Naruto dengan Naruto vs Sasuke. Slam Dunk dengan Sakuragi vs Rukawa. Bleach dengan Ichigo vs Uryuu. Meitantei Conan dengan Shinichi Kudo vs Kaito Kid, dan banyak lagi.

Jagoan kita (Ma Yongzhen) datang ke Shanghai untuk mencoba peruntungan. Di sana, ternyata ada bos geng independen yang sedang melebarkan sayap, yaitu Long Qi. Long Qi sudah membereskan 1 dari 4 bos geng Shanghai yang sebelumnya. Dan dia membereskannya dengan sangat mudah karena kung fu ala "boxing"-nya yang superior. Dengan kata lain, Long Qi mendapatkan reputasi dan segalanya karena kemampuan bertarungnya yang legendaris.

Tidak lama, Long Qi pun bertemu dengan jagoan kita, Yongzhen. Tanpa diduga, Yongzhen dapat mengimbangi Long Qi dan Long Qi pun yang tadinya tidak ada lawan sepadan menjadi senang dan menghargai Yongzhen. Mereka pun berteman dekat--bahkan mereka seperti saudara. Dan pertarungan mereka selalu enak dilihat.

Long Qi tidak percaya ada pemuda kampung yang bisa menempelkan debu ke tubuhnya.

Lega, senang, dan bahagia karena bertemu lawan sepadan. 

"Mau rokok?" adalah bukti bahwa Long Qi mengakui Yongzhen.

"Mulai hari ini, Ma Yongzhen boleh minum-minum di klub ini sesuka hatinya! Karena dia adalah temanku!"
"We are brothers forever."

Long Qi dan Yongzhen selalu sparring dengan riang seperti anak kecil, kapan pun mereka sempat.


"Bergabunglah denganku, Ma Yongzhen! Berdua, kita tidak akan terkalahkan!"

Dan di sini pula terletak twist yang sangat mengejutkan. Rival memang tidak tertebak dan itu sangat menyenangkan untuk ditonton.




Tsundere Alert!

Mungkin ini cuma bumbu kecil, tetapi cukup menarik karena love interest jagoan kita menggunakan konsep tsundere. Ya, tsundere seperti pada anime-anime. Apa? Apa itu tsundere? Sederhananya, tsundere adalah tipe karakter (biasanya gadis) yang galak, jutek, dingin, namun sebenarnya berhati lembut. Dan tipe ini selalu menarik untuk ditonton karena tingkahnya lucu, polos, dan kadang konyol serta menggelikan. Ini menjadi nilai hiburan tersendiri karena memuat banyak humor dan romantisme ringan.

"Aku tidak memberikannya untukmu. Kebetulan ada sisa!"

"Apa liat-liat!?"

Tidak ada yang tahu jika seorang tsundere sedang jatuh cinta atau sedang membenci seseorang.


Pertarungan Terakhir yang Ultradahsyat

Tiap film kung fu biasanya dinilai dari pertarungan terakhirnya. Dan OUTIS tahu benar hal itu sehingga memaksimalkan segalanya untuk kepentingan pertarungan terakhir. Plot, alur, dan background adalah instrumen yang akhirnya menjadi panggung megah untuk pertarungan terakhir ini. Jadi, kita tidak akan menyaksikan pertarungan kosong yang tanpa emosi atau motif. Kita akan menyaksikan pertarungan terakhir yang penuh dengan darah dan air mata.

Katana-ougi-ryuu vs Jeet Kune Do. Menang mana?
Itulah alasan pokok mengapa OUTIS lebih baik daripada Kung Fu Jungle. Tidak setuju? Tonton dulu keduanya dan tinggalkan komentar.


I always appreciate rival more than best friend.
Rival teaches you everything.
Best friend only teaches you kindness.