Total Pageviews

October 22, 2013

These Songs are My Best Friend (Updated: with MP3 Download Links)

Beberapa teman menanyakan, "Apa saja, sih, lagu-lagu Jepang yang recommended?"


Aku sempat terenyak selama beberapa detik karena beribu-ribu judul langsung berkelebatan dalam otakku secara serentak. Namun, pada detik berikutnya, aku langsung mencoba menatanya dan memilih 20 yang terbaik.

Tentu saja ini adalah murni subjektivitasku. Namun, mungkin tidak ada salahnya mencoba mendengarkan sedikit not dari lagu-lagu berikut. Mungkin kamu akan mengangguk-angguk setuju, lalu mendengarkannya lagi dan lagi.

10 Best Adrenaline Songs

1. Tactics - Yellow Monkey

 

Siapa yang tidak kenal Battosai Si Pembantai? Ya, inilah salah satu OST paling fenomenal dari anime Rurouni Kenshin (Samurai X). Tatanan melodi sederhana tapi catchy, bass yang rapi, dan vokal yang khas membuat kita tidak bosan-bosan mendengarnya.

Berikut link-nya:

2. Yuzurenai Negai - Naomi Tamura

 

Invasi anime pertama di Indonesia adalah Doraemon, Sailor Moon, dan Dragon Ball. Genre shoujo semacam Sailor Moon ini dulu sangat populer sehingga muncul pesaing beratnya, Magic Knight Rayearth. Nah, Yuzurenai Negai adalah opening pertama anime ini. Keunggulan lagu ini adalah beat dan vokal Naomi yang sangat mantap. Vibranya sangat terasa, bahkan sampai ke pitch-pitch tertinggi. 

Berikut link-nya:

3. Bel Air - Malice Mizer


Nama Malice Mizer memang kurang dikenal karena genrenya yang rock-gothic. Namun, jika menyebut vokalisnya, pasti semua orang tahu: Gackt Kamui. Meski berdandan creepy, musik Malice Mizer sangat menawan dan benar-benar merupakan pertunjukan skill. Sebagian fans menyebut mereka sebagai "Dream Theater-nya Jepang". Keunggulan lagu ini adalah dual-guitar yang memanjakan telinga, vokal berat Gackt yang berkesan "gagah", dan lirik yang alegoris.

Berikut link-nya:

4. Aoi Tori - Fumika




Satu dari penyanyi pendatang baru, Fumika, telah menarik perhatian fans anime Bleach. Dengan single pertamanya, Aoi Tori, sebagai ending ke-27, ia langsung meroket dan merilis album Pop Sister. Kekuatan utama lagu ini tentu ada pada vokalnya yang sangat lantang, tegas, dan bersemangat. Not-notnya juga mahal dengan perpindahan kunci-kunci seperempat-seperenam belas.

Berikut link-nya:

5. Tonight - YUI


Lagu ini mencerminkan aura J-rock yang sangat kental. Dengan alunan gitar listrik yang terus "jalan" (bukan berupa rhythm) sepanjang lagu, lagu ini akan membuat kepala kita terus bergoyang enjoy. Tabuhan drum juga sangat sangar dengan teknik double-pedal. Ditambah, sang vokalis sekaligus lead guitarist-nya, YUI, bernyanyi dengan vokal unik yang tidak pernah ia keluarkan pada lagu-lagunya yang lain. Dalam lagu ini, ia memperdengarkan vibra dan power yang mengagumkan.

Berikut link-nya:

6. Pegasus Fantasy - Make up

 

Saint Seiya! Boleh dikatakan Pegasus Fantasy adalah soundtrack anime terbaik sepanjang sejarah. Puluhan juta orang meng-cover lagu ini di Youtube. Bahkan hingga sekarang, kita masih sering mendengar lagu ini menggema di festival-festival Jepang di seluruh dunia. Padahal, lagu ini dibuat tahun 1983! Keunggulan lagu ini adalah pemilihan irama dan nada yang sangat enak didengar dari awal hingga akhir.

Berikut link-nya:

7. Honjitsu wa Seiten Nari - Do as Infinity



Apakah official soundtrack Piala Dunia 2002? Boom oleh Anastasia? Bukan. Well, setidaknya, di Jepang--yang waktu itu jadi tuan rumah--OST World Cup 2002 itu adalah Honjitsu wa Seiten Nari. Seperti layaknya The Cup of Life-nya Ricky Martin yang melegenda, lagu ini bertempo tinggi sehingga membakar semangat dan adrenalin.

Berikut link-nya:

8. LIFE - YUI


Lagi-lagi dari ending anime Bleach, LIFE diyakini para fans sebagai masterpiece single  YUI. Suara lembutnya yang kawaii dikolaburasikan gitar akustik menghasilkan harmoni yang sedap didengar. Liriknya pun sangat dalam, mempertanyakan arti kehidupan, dan sekaligus menjawabnya dengan metafor-metafor manis.

Berikut link-nya:

9. The 4th Avenue Cafe - L'Arc~en~Ciel


Lagi, dari Rurouni Kenshin. Tidak dapat dimungkiri bahwa anime Rurouni Kenshin adalah gudangnya OST-OST terbaik. Ada Tactics, It's Gonna Rain, 1/3, Curio, Sobakasu, dan yang paling berkesan: The 4th Avenue Cafe. Kekuatan utama lagu ini adalah aransemen yang "senewen" saking rapinya, bahkan sampai melibatkan piano akustik dan banyak sound effect. Lalu, sang vokalis adalah Hyde, pemilik suara yang "kanpeki". Raw, range, tecnhique, vibra, semuanya dia punya.

Berikut link-nya:

10. Zankoku Na Tenshi no Thesis - Yoko Takahashi

 

Seri mecha pertama yang terkenal di Indonesia adalah Patlabor. Lalu, muncul Neon Genesis Evangelion dengan tema yang berat. OST-nya tidak lain adalah lagu ini. Keunggulan lagu ini adalah komposisi vokal dan nada yang bernuansa opera sehingga terdengar grande. Range Yoko Takahashi juga luar biasa.

Berikut link-nya:


10 Best Soft-hearted Songs


1. Hitomi no Jyuunin - L'Arc~en~Ciel


Tiap band rock keren punya satu lagu "sweet-rock" mereka sendiri, misalnya Aerosmith dengan single I Don't Wanna Miss a Thing, Extreme dengan More than Words, atau Muse dengan Unintented. Nah, band nomor satu di Jepang, Laruku, memiliki satu sweet-rock legendaris, Hitomi no Jyuunin. Penataan intro, verse, climax-nya sangat halus dan apik. Ditambah melodi-melodi menyayat dan vokal "dewa" Hyde, lagu ini akan membuat kita berdecak kagum. Trust me. Lagu ini adalah masterpiece Laruku.

Berikut link-nya:

2. Aqua - Miki Imai

 

Tidak ada yang mengenal Miki Imai. Ia sangat low profile. Lagu-lagunya juga biasa-biasa saja, kecuali yang berjudul Aqua. Tidak sedikit penyanyi yang hanya berhasil menelurkan satu hit, namun satu hit itu terus diingat. Mengapa Aqua ini sangat istimewa? Pertama, dari banyak lagu Jepang, lagu ini adalah satu genre langka, yaitu jaz. Kedua, not-notnya seperti berselancar. Sangat smooth dan enjoyable. Ketiga, vokal Miki sangat-sangat sesuai dengan lagu ini, seolah-olah ia memang diciptakan untuk menyanyikannya.

Berikut link-nya:

3. Suteki da ne - Rikki



RPG lovers tentu tahu pasti lagu ini. Diklaim sebagai OST RPG terbaik untuk Final Fantasy X, lagu ini memang diaransemen dengan sangat sempurna oleh sang maestro, Nobuo Uematsu. Kekuatan utama lagu ini adalah biolanya yang brilian sebagai second vocal. Melodi biolanya seolah mengiris-iris hati pendengar. Vokal tinggi namun lembut Rikki juga sangat cocok dipadukan dengan biola. 

Berikut link-nya:

4. Kanade - Fumika


Mencari lagu Jepang yang "grande"? Lagu inilah jawabannya. Hanya diiringi mayoritas piano akustik, kekuatan vokal Fumika jadi sangat terasa. Klimaksnya "dapet". Ini benar-benar lagu festival yang "dilahap" bulat-bulat oleh Fumika.

Berikut link-nya:

5. Moonlight Serenade - Saori Yagi 

 

Penggemar Chinmi si kung fu boy pasti tahu lagu ini. Ya, lagu ini adalah ending anime Kung Fu Boy yang dulu sempat tayang di Indonesia melalui kanal TPI. Lagunya sederhana. Melodi sederhana. Vokal sederhana. Namun, pilihan-pilihan notnya sangat pas dan liriknya menyentuh.

Berikut link-nya:

6. Long Long Ago 20th Century - Tadao Sakai

Kotaro Minami! Tokoh serial yang tak terlupakan. Ending-nya dinyanyikan dengan vokal "bindeng" Tadao Sakai. Aransemennya mistis. Banyak sound yang tidak bisa dijelaskan, namun menghipnotis karena membentuk harmoni yang luar biasa. Lagi pula, lagu ini sangat nostalgik.

Berikut link-nya:

7. Future - Kiroro


Di samping Kokoro no Tomo, lagu ini adalah masterpiece sepanjang masa dalam sejarah J-Pop. Saking populernya, lagu ini dibuat dalam berbagai versi bahasa, termasuk bahasa Indonesia yang dinyanyikan oleh Yuni Shara. Kekuatan utama lagu ini adalah dinamika dan pilihan nadanya yang sangat genius. Enak didengar pada era apa pun.

Berikut link-nya:

8. Anohi no Futari wa Mou Inai - Naomi Tamura

 

Lagu ini merupakan OST yang tergolong underrated. Padahal, komposisi, teknik vokal, dan aransemennya sangat bagus, khususnya bagi penggemar not-not "miring" yang tak lazim. 

Berikut link-nya:

9. Planetarium - Ai Otsuka


Lagu ini adalah masterpiece Ai Otsuka yang dijadikan OST Hanayori Dango. Vokal Ai di sini terdengar sangat-sangat penuh penghayatan sehingga kita tanpa sadar akan memejamkan mata dan ikut merasakan.

Berikut link-nya:

10. Good Bye Days - YUI

 

Lagu ini akan terasa sangat istimewa ketika kita sudah menonton Taiyo no Uta the Movie karena memang lagu ini menceritakan inti tragedi dalam movie tersebut. Apa yang ingin kamu sampaikan kepada orang-orang yang kamu sayangi di ambang ajalmu? Apa yang ingin kamu berikan kepada orang-orang yang sayang padamu sebelum kamu menutup mata untuk selamanya? Lagu ini adalah perwujudan dari perasaan-perasaan itu. Aransemennya luar biasa rapi, tatanan [intro-verse-bridge-prechorus-chorus-build up-outro] superior dan mengusung tema. You definitely don't want to miss this one.

Berikut link-nya:


Nah, itulah 20 Best Japanese Songs versiku. Lagu-lagu inilah yang selalu membanjiri ruang dengarku di saat-saat penting. Mereka (lagu-lagu itu) sudah kuanggap seperti ahli terapi dan penyemangat. Mereka sering menolongku, memberi motivasi, dan mengingatkanku akan memori-memori paling berharga.

Mereka bukan hanya seni yang luar biasa.
Mereka adalah sahabat yang bisa diandalkan.

Life is a song.
Its intro is our childhood: vocalless.
Its verse is our teen: so many questions.
Its chorus is our maturity: full of conflict.
And like any other songs:
It has to end.

October 17, 2013

April Fool



           
     Aku melihat sebuah amplop di atas meja tamuku. Aku mengambil dan merobek ujung amplop itu dan membuka lipatan kertas di dalamnya. Dengan hati-hati aku membaca deretan kata-kata yang diketik rapi.

        Dear Lenne,

     Baru kurasakan kalau darah itu begitu manis. Seperti anggur matang yang baru diperas dari pohonnya. Begitu dingin, menyegarkan, sekaligus menggairahkan.
     Kau tahu, Lenne? Terkadang hal terpahit pun bisa menjadi kenangan penuh gulali dunia. Seperti keterlambatan seorang pilot yang menyelamatkan ribuan jiwa dari kecelakaan tragis yang seharusnya menimpa mereka, aku pun merasakan darah dengan begitu nikmatnya.
     Aku senang bisa mengenalmu. Aku sangat bersyukur kita bisa sempat berbincang-bincang lama tentang keadaan diri kita. Sungguh. Bagiku semua itu benar-benar saat yang menyenangkan. Namun kurasa inilah waktu lain ketika aku harus mengucapkan selamat tinggal. Selamat tinggal yang sebenar-benarnya. Tidak ada lagi sampai jumpa.

      Aku mengerutkan keningku.
      Surat apa, sih, ini? Kataku dalam hati sambil membalik-balik amplopnya. Di belakang amplop itu tidak ada nama pengirim.
      Dengan gundah aku melanjutkan membaca surat itu.

      Aku ingin melangkahkan kakiku setiap saat untuk mendekatimu. Setidaknya aku ingin meneleponmu untuk sekedar bilang “Hai.” Namun saat ini rasanya aku sudah tak sanggup lagi.
       Lenne, biar kuceritakan satu rahasia besar tentang diriku. Dari dulu tubuhku adalah hal termisterius dalam hidupku. Aku selalu terbingung-bingung memikirkan kenapa fisikku begitu lemah? Kenapa mataku selalu merah? Mengapa kepala kiriku sering terasa seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum? Kenapa aku sering lupa? Kenapa setiap bangun tidur di bantal kepalaku tertinggal puluhan helai rambutku? Dan akhir-akhir ini, kenapa setelah sakit di kepala kiri, sering keluar darah segar dari telingaku? Akhirnya sekarang aku tahu. Inilah takdir hidupku. Jalan panjang yang harus kulalui saat ini memang sangat jelek. Tapi itu jalanku. Dan aku harus melewatinya.
       Aku berhenti sejenak. Memikirkan orang yang kukenal. Orang yang selama ini selalu memperhatikanku. Siapa?
       Aku berpikir dan berpikir… sampai terbersit bayangan wajah dalam benakku.
       Shuyin?
       Ah, masa dia, sih? Tapi memang dialah cowok yang mengejarku mati-matian dari awal kelas tiga SMU. Memberiku segala tetek bengek murahan yang sama sekali tak berguna. Sampai berusaha menarik simpatiku dengan segala cara, seperti memberi contekan, atau menyuguhiku gambar-gambar yang menurutnya sangat penuh perasaan. Yaiks! Satu kesan yang selalu kuterima dari dia adalah, dia menjijikkan!
         Setengah meringis, aku melanjutkan membaca. Berharap menemukan sesuatu yang dapat membuktikan kalau surat ini bukan darinya.

    Pada saat semua berubah pekat, sebagai permohonan terakhir, aku ingin melihatmu tersenyum bahagia. Aku ingin melihatnya. Senyumanmu yang benar-benar dari dalam hatimu. Bawalah tunanganmu itu dan tersenyumlah untuknya di depanku. Dengan begitu, aku yakin kau bisa menciptakan senyuman tulusmu. Senyuman yang tak pernah kauberikan untukku, biarkanlah aku melihatnya dengan daya lihatku yang terakhir.

            Wah, dia tahu kalau aku sudah bertunangan? Ini bukan main-main. Rasanya dugaanku ini semakin tepat saja.
            Aku beralih ke lembaran kedua. Masih menyisakan harapan kalau ini bukan darinya. Kumohon, dari siapa sajalah, asal jangan Shuyin!

            Kuberharap aku bisa tersenyum pula ketika malaikat mulai menarik-menarikku, memerintahkanku untuk segera menutup mataku. Namun, aku teringat satu kebiasaanmu: Kau tak pernah bisa memenuhi harapanku. Tak pernah…
            Maka aku memutuskan untuk menelan sendiri kenyataan hidup ini. Sebesar apa pun aku membutuhkanmu, kau takkan pernah ada untukku. Bahkan untuk saat terakhirku pun, kurasa kau takkan sudi melihatku. Kau memang tak pernah peduli padaku. Dan itu bukan salahmu. Kau melakukan apa yang seharusnya kau lakukan.            Dua puluh tiga Maret 2002, selama dua jam empat puluh tujuh menit, bisa dikatakan kita berkencan. Aku tahu aku mengacaukan semuanya. Aku memang tak berpengalaman. Dan kau telah mencapku sebagai pemuda menyedihkan. Tapi di balik semua itu, aku sangat bahagia bisa bersamamu. Kekasihmu pasti sangat senang dan bersyukur tiada tara bisa memiliki istri seperti dirimu Yah… aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu. Aku bersyukur atas takdirku ini. Mungkin Tuhan punya rencana lain untukku. Rencana yang sama sekali tak perlu melibatkanmu yang bahkan tak sudi untuk sekedar mencemaskanku sebagai manusia yang bernyawa. Jika aku tak berharga, maka apakah nyawaku juga setakberharga jiwaku?      Aku berdoa agar tak usah ada lagi Lenne-Lenne di kehidupanku selanjutnya. Dan bila tak terkabulkan, aku akan mati dan mati lagi. Hanya dengan matilah aku dapat membebaskan diri dari jajahanmu yang kau sendiri tak pernah sadar telah melakukannya.

            Ini sudah pasti dia! Hanya dialah cowok yang pernah kukencani dalam waktu kurang dari tiga jam karena bosannya.
            Tapi yang tak kumengerti, tentang apa yang ia sampaikan. Apakah semacam pemberitahuan kalau ia sedang sekarat di suatu tempat? Dan permintaan untuk mengunjunginya?
            Ngaco sekali! Apa pun yang terjadi, aku takkan pernah peduli padanya. Kalau dia mati, mati saja sana. Itu sama sekali bukan urusanku. Itu sudah takdirnya.
            Oh, ternyata masih ada paragraf terakhir di surat ini.

    Jangan khawatir, aku takkan menghantuimu. Urusanku di dunia ini sudah selesai sampai di sini. Akhirnya, selamat tinggal selamanya… kali ini aku benar-benar takkan mengganggumu lagi. Bukannya aku tak mau, tapi karena aku sudah tak bisa…

            Aku membanting surat itu ke lantai.
            Heh, kaukira aku akan terperdaya oleh tipuan murahanmu, Shuyin? Lihatlah kalender, ini tanggal satu April! April Mop kan? Kau ingin membuat sesuatu yang lucu buatku, kan? Nah, kuberitahu saja kalau kau GAGAL TOTAL!
            Lagipula kalaupun itu benar, aku tak peduli. Memangnya kau ini siapa? Leonardo di Caprio? Sebaiknya kau berkaca dulu kalau mau mendekati cewek. Aku terlalu berharga diri untuk bisa kaupancing dalam perangkap kacanganmu ini.
            Sambil merasa konyol karena telah menghabiskan waktu membaca surat tak bermutu itu, aku bergegas ke kamarku. Dan saat itu telepon di ruang tamu berbunyi.
            Aku mengenyakkan diri ke sofa di samping telepon dan meraih gagang telepon itu. “Halo?” kataku tak sabar.
            “Lenne?”
            Oh, ya ampun… sekarang dia meneleponku! Aku mendengus kesal. Tak cukupkah menyiksaku dengan sebuah surat saja?
            “Yeah? Ada apa?” tanyaku sengit, nadanya sama sekali tak peduli.
             “Se… ma… t… alm…” suara Shuyin terputus-putus dan menjadi serak…
            Aku menempelkan lebih ketat lagi telepon itu ke telingaku. “Kau ngomong apa, sih?” tanyaku galak.
            “Sela… mat… malam…” sekarang suaranya seperti orang lain. Begitu tak bersemangat, begitu tak bertenaga…
     Huh… berusaha agar aku kasihan padamu dengan memasang suara menyedihkan itu? Enggak mempan! Cari cara lain yang lebih kreatif bisa tidak, sih?
            “Yeah. Terima kasih. Sudah, kan? Begitu saja, kan?” tanganku sudah tak sabar ingin membanting gagang telepon itu dan bebas darinya. Lagipula, apa maksudnya menelepon hanya untuk bilang ‘selamat malam’? Memangnya dia siapa? Pacarku? Wueek! Aku bisa terkena gangguan pencernaan karena selalu muntah melihat wajahnya setiap hari kalau dia pacarku.
            Aku mendengarkan, ingin tahu cara apa lagi yang ia pakai untuk membuatku bete kali ini. Tapi aku hanya mendengar bunyi benturan. Seperti bahan plastik yang terjatuh…
            Apakah dia menjatuhkan teleponnya saking gugupnya?
            Aku menunggu dia bermaaf-maaf menyebalkan seperti biasanya. Tapi tidak… tak terdengar apa-apa… Bahkan dentuman nada sibuk yang statispun tak ada… Ini berarti teleponnya belum ditutup.
Sedang apa dia? Aku menunggu beberapa detik…
Aaah! Peduli amat! Dengan malas aku membanting telepon dan beranjak ke kamarku. Dan, tak seperti biasanya, telepon itu tak berdering lagi…

*****


Aku membelai lembut rambut Seymour yang terurai panjang. Aku mengawasi wajah seriusnya yang sedang menatap lekat televisi di depannya. Paras polosnya membuatku tersenyum kecil.
“Serius amat nontonnya?” kataku, masih sibuk memilah-milah rambutnya.
“Hm? Yaa… soalnya aku belum nonton film ini…” dia menoleh ke arahku sejenak, melempar senyum.
“Seymour?”
“Hm?”
“Kau masih ingat cowok menyebalkan yang mati-matian mengejarku? Yang sering aku ceritakan itu?”
“Hah?” Seymour balas menatapku secara tak wajar. Ekspresinya berbalik total. “Mengejarmu mati-matian? Siapa??” tanyanya hampir tak percaya. Dia beringsut duduk dan mematikan TV, berbalik mengadapku. “Ceritakan padaku!”
Aku tak kalah terkejutnya. “Kau ini kenapa? Aku sudah menceritakan ini ribuan kali, karena ribuan kali juga dia menembakku dengan berbagai cara…”
Menembakmu?? Tidak… aku belum pernah dengar tentang ini… Siapa dia, Lenne?” potong Seymour, ekspresinya semakin mengeras.
“Shuyin… Masa kau tidak ingat, sih? Teman sekelasku itu… Tidak mungkin kau tidak ingat…” kataku putus asa.
Ya! Bagaimana mungkin Seymour tidak ingat? Dulu ia hanya tersenyum-senyum karena merasa lucu Shuyin berani menembakku. Seymour dan aku sama-sama setuju kalau dia takkan bisa membuat apa-apa di antara kami. Kami sepakat kalau ia sama sekali tidak bisa dikatakan pesaing Seymour… Dan sekarang, mengapa Seymour bisa melupakannya??
Seymour terlihat sangat tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Saat ini mungkin ia berpikir kalau aku telah mempermainkannya atau apa. Ekspresinya benar-benar tidak menyiratkan satu pun kepercayaan.
“Shu… siapa? Aku bahkan belum pernah mendengar namanya!”

***

Keesokan paginya aku buru-buru pergi ke sekolah. Aku masih penasaran tentang insiden tadi malam. Mana mungkin Seymour belum pernah mendengar nama Shuyin? Hal ini terus menggaung-gaung di kepalaku. Untuk itulah aku akan memastikannya.
Shuyin selalu datang lebih pagi untuk menyediakan pizza dan sebotol air dingin di laci mejaku. Aku akan tahu apa yang terjadi kalau aku menemuinya.
Kelasku sudah terlihat. Beberapa teman menyapaku, tapi aku tak memedulikannya. Aku masuk ke kelas dan melihat ke bangku duduk terdepan milik Shuyin…
Tidak ada siapa-siapa.
Apakah ia terlambat? Ah, tidak mungkin. Selama ini dia tidak pernah terlambat. Tidak kalau tentang kepentinganku.
Aku bergegas ke mejaku dan memeriksa lacinya…
Kosong.
Mulutku menganga… Apa… apa yang sebenarnya terjadi?
Aku bergegas ke salah satu teman yang menyapaku tadi.
“Kalian tahu ke mana Shuyin?” tanyaku dengan nada buru-buru.
Mereka semua mengerutkan dahi mereka. “Siapa?”
“Shuyin! Yang duduk di depan! Yang semester kemarin ranking satu!? Masa tidak kenal, sih!?” aku setengah berteriak sambil menunjuk kursi Shuyin.
Mereka mengikuti telunjukku dan semakin terlihat bingung. “Loh? Yang ranking satu kemarin ‘kan aku. Lagipula, kursi itu dari dulu kosong…”
Aku melongo.
Pikiranku berputar-putar. Suaranya masih ada di kepalaku. Wajahnya masih bisa kulihat dengan jelas di bayanganku. Lalu, apa ini? Apa yang sedang terjadi?
Semakin bingung dan bingung, aku merogoh tasku, mengambil ponselku, dan menghubungi nomor Shuyin yang pernah kupakai sekali waktu aku mau meminjam bukunya dulu.
Beberapa detik dunia terasa hening. Lalu ada suara operator komputer menjawab: nomor yang Anda hubungi tidak terdaftar. The number you are calling is unregistered, please make sure that…
Ponsel itu hampir terjatuh dari genggamanku. Otakku terus berputar cepat. Sementara bayang-bayang ingatan tentang Shuyin terus berkelebatan dalam benakku. Aku terus berpikir… berpikir… terus mencoba untuk menemukan penjelasan yang masuk akal atas semua ini…
Aku menarik napas panjang…
Buntu. Semua itu berakhir pada kalimat, Sejak dulu, Shuyin itu tidak ada… Dia tak pernah ada…
Lalu? Siapa atau apa yang selama ini terus memohon-mohon cintaku? Khayalanku? Selama satu tahun aku berkhayal?
Tidak. Tidak ada alasan mengapa aku harus mengimajinasikannya… aku sudah punya orang yang mencintaiku. Aku tak lagi mendamba untuk dicintai karena aku selalu dicintai sejak dulu…
Lalu apa ini? Apa ini?
Dengan lemas aku terduduk di bangku depan kelas. Beberapa detik aku mengingat-ingat apa yang terjadi belum lama ini…
Oh ya! Surat itu! Surat aneh dari Shuyin itu! Aku menyelipkannya dalam buku kemarin setelah membacanya. Rencananya akan kutunjukkan pada teman-temanku dan menertawakannya bersama-sama.
Maka aku membuka tasku dan membuka buku itu.
Ada. Surat itu ada. Dengan cepat kuraih surat itu dan kukeluarkan lembarannya dari amplop…
Ternyata hanya kertas kosong… Tidak satu bercak pun di kertas putih itu. Aku membolak-balikkannya tak percaya. Benar-benar kosong…

***

“Mencari siapa, Nak?”
“Seseorang yang mencintai saya...”
“Bukankah itu Seymour?”
“Entahlah. Seharusnya memang dia. Aku mencintai Seymour… Tapi aku ingin bertemu dengan orang lain saat ini…”
“Kau tahu kalau Seymour mencintaimu?”
“Saya tahu.”
“Kau tahu ia mencintaimu? Atau kau percaya kalau ia mencintaimu?”
“……”
“Nak, kadang-kadang, cinta kita kepada seseorang membuat kita percaya akan sesuatu yang belum bisa dipastikan… Hal itu kita yakini karena kita mencintainya dan ingin agar kenyataan terbaiklah yang ada. Padahal kenyataan tidak selalu indah…”
“Jadi… “
“Ya, ya. Mungkin saja seperti yang kau pikirkan itu. Tapi, mengapa kau ingin bertemu dengan orang lain itu? Apa yang membuat ia berbeda dengan para pengagummu yang lain?”
“Namanya Shuyin… Aku selalu meremehkannya. Dia sama sekali bukan tipeku. Tapi…”
“Dia bisa membuatmu yakin kalau dia benar-benar mencintaimu?”
“…… ya…”
“Apakah rasanya berbeda?”
“Antara apa?”
“Ketika Shuyin menyatakan cintanya—dan ketika Seymour menyatakan cintanya… apakah rasanya berbeda?”
“…… ya… berbeda…”
“Itulah sulitnya cinta, Nak. Kau tidak bisa memilih oleh siapa kau dicintai. Ketika cinta itu datang, kau bisa dengan mudah menepisnya dengan alasan kau tidak mencintainya. Tapi, Nak, kalau bagimu kebahagiaan adalah dicintai daripada mencintai, seharusnya kau menerima cinta yang datang itu. Karena, dia mencintaimu. Dan karena dia mencintaimu, maka kebahagiaanmu adalah hukum tertinggi. Karena dia mencintaimu, maka seluruh hidupnya akan didedikasikan untukmu. Dan itu hanya bisa dilakukan olehnya…”
“……lalu… di mana Shuyin sekarang?”
“Inilah bagian tersulitnya. Cinta seperti itu sebenarnya tidak ada…”
“Apa?”
“Semenjak kau mengenal Shuyin, pada saat itu pulalah April Fool-mu dimulai…”
“Apa maksudnya??”
“Cinta semurni itu hanya ada dalam angan-anganmu yang terdalam. Kau pernah memikirkan ini, bukan? Yang mengagumi dan ingin menjadi pacarmu memang tidak terhitung. Semuanya bilang kalau mereka mencintaimu. Tapi kenapa dalam hatimu kau ragu akan mereka?”
“Ja… jadi…”
“Ya, ya. Kau begitu ingin dicintai dengan taraf paling murni di alam semesta. Cinta yang membuatnya rela melakukan apa saja untuk dirimu. Yang membuatnya merencanakan segalanya untuk kebahagiaanmu. Cinta yang membuatnya menerima dirimu apapun keadaanmu. Dan bahkan cinta yang membuatnya berpaling serta mengorbankan semua yang telah ia raih tanpa pamrih apa pun. Dan karena hal itu tidak mungkin—sebab cinta macam itu tidak ada, maka kau membuatnya sendiri…”
“Ja… jadi… Shuyin…”
“Ya, Nak. Dia adalah ciptaanmu sendiri.”
Aku melihat kakek tua berwajah bijak itu berputar-putar membentuk pusaran dengan jumlah tak terhingga. Rasanya pusaran itu terus menyedotku masuk… masuk… dan membuatku berputar… berputar… dan… terbangun!
“Huahh!!” aku duduk di tempat tidurku dengan napas tersengal-sengal.
Mimpi!! Semua adegan bodoh tadi adalah mimpi?
Aku masih belum sepenuhnya sadar ketika ponselku berbunyi. Aku menelan ludah dan meraih ponsel itu dari balik bantalku. Di layar LCD itu, tertulis: Shuyin’s calling yang berkedip-kedip.
Di… dia ternyata ada!
“Yea?” kataku, berusaha terdengar biasa.
“Selamat pagi, Lenne… Tadi aku melihat fajar di balik tirai embun yang sejuk. Warnanya benar-benar memesona. Saat itu kuharap kau juga bisa melihatnya…” 

Karena dia mencintaimu, kebahagiaanmu adalah hukum tertinggi…

“Oh, ya?” tukasku, masih berusaha terdengar cuek.
“Sebentar lagi kita lulus SMU. Aku sudah mendaftar untuk masuk perguruan tinggi terkemuka agar aku bisa jadi pemuda yang mapan di kemudian hari…”

Karena dia mencintaimu, maka ia akan merencanakan segalanya untukmu…

“Kenapa repot-repot? Nanti juga aku bakal tua dan keriput…”
“Kebetulan saja kau ada di jasad yang sempurna saat ini. Kalaupun kau ada di jasad seorang nenek-nenek, aku tetap tak bisa membuang perasaan ini.  Sudah kubilang ‘kan? Aku mencintaimu karena kau adalah Lenne. Bukan karena kau cantik atau apa…”

Karena dia mencintaimu, dia akan menerima dirimu, apapun keadaanmu…

Aku akhirnya tak bisa lagi untuk tidak tersenyum.
“Shu, hari ini aku main ke rumahmu boleh tidak?”
“EH? Ke… kenapa tiba-tiba…”
“Oh, jadi tidak boleh? Ya sudah…”
“Bu… bukan begitu… Boleh, boleh. Tentu saja boleh!”

Dan karena dia mencintaimu dengan cinta semurni itu, maka satu kesempatan—walaupun bertajuk April Fool sekali pun-- rasanya cukup adil jika diberikan untuknya…

Human always want to have everything they WANT,
 but they always forget what they NEED. In fact, they do NOT know what they need.

October 09, 2013

Comfort Zone vs Seni Bersyukur


"Mari Keluar dari Comfort Zone!"
Aku bosan mendengar kata-kata motivasi itu, sungguh.Apa pekerja yang berteriak begitu benar-benar ada dalam comfort zone mereka?

Aku seorang editor. Sejak SMP, itulah cita-citaku. Aku mengambil segala langkah untuk menggapai cita-cita sederhana itu ... dan kini aku telah berhasil. Lantas, tiap orang kini menilai aku telah berada dalam comfort zone. Mereka bilang itu berbahaya. Mereka bilang aku harus keluar dari comfort zone itu. Segera.

Aku pikir ini aneh. Sangat aneh.

Konsep comfort zone ini masih simpang siur. Aku sendiri punya pemahaman lain tentang hal ini. Comfort zone, seperti namanya, berarti 'zona/daerah nyaman'. Karena nyaman, orang akan sulit meninggalkannya. Pertanyaannya, mengapa harus meninggalkannya? Apakah kita membeli rumah yang nyaman untuk kemudian meninggalkannya?

Absurd.

Ketika seseorang masih ingin lebih, ingin yang lain, ingin mencoba ini dan itu, niscaya orang itu BELUM berada dalam comfort zone. Begitu pun dengan seseorang yang telah merasa nyaman, tetapi juga merasa jalan di tempat, niscaya orang itu BELUM berada dalam comfort zone. Comfort zone yang sebenarnya adalah zona tempat kita memiliki segalanya, mencapai segalanya, dan merasa bahagia serta tidak ada kekurangan apa pun.

Sekarang muncul argumen populer untuk membantah pernyataan di atas:
"Jika ada seorang pemulung dan dia MERASA telah memiliki segalanya, mencapai segalanya, dan merasa bahagia serta tidak ada kekurangan apa pun, bukankah pada kenyataannya ia tetap pemulung yang menyedihkan?"

Jawabannya: ya, pemulung itu menyedihkan ... BAGI ORANG LAIN YANG MELIHATNYA. 

Kita harusnya ingat, kehidupan si pemulung milik pemulung itu sendiri. Kebahagiaannya adalah kebahagiaan yang nyata-nyata berbeda dengan kebahagiaan kita. Makan nasi bungkus Rp4000-an adalah kebahagiaan si pemulung ketika bagi orang lain mungkin adalah musibah. Jika si pemulung sudah bahagia, ya bahagialah dia. Biarkan saja. Jangan dimanipulasi oleh konsep comfort zone yang beredar luas dan mencuci otak itu karena sesungguhnya, konsep ini pun melangkahi seni bersyukur.

Sekarang, marilah kita bertanya kepada diri masing-masing:
"Sudahkah aku bahagia?"

Inti dari kehidupan ini adalah menggapai kebahagiaan. Jika sudah bahagia, kenapa harus repot-repot dan sok berpikiran maju dengan selalu berkata, "Ayo, keluar dari comfort zone"?

Orang-orang yang sok dan ambisius semacam ini tidak akan bahagia karena SELALU ada target di depan sebab mereka tidak mengerti seni bersyukur.

Lalu, akan muncul lagi argumen:
"Ya memang kita di dunia kerja harus terus menatap ke depan, lebih tinggi, dan tidak pernah berhenti. Itulah konsep profesionalitas!"

Orang-orang yang berargumen seperti ini bisa kita pastikan memang selalu akan maju. Namun, apakah mereka bahagia? Kepala mereka dijejali oleh "naik pangkat, naik pangkat" atau "cari tantangan baru, cari tantangan baru" sehingga melupakan tujuan hidup manusia itu sendiri: menggapai kebahagiaan. 

Orang yang selalu mau maju memang sangat dicari perusahaan mana pun. Namun, yakinlah, orang-orang semacam ini nyaris tidak punya waktu untuk meraih kebahagiaan mereka sendiri saking sibuknya mengejar promosi. Mereka hanya tidur 2-3 jam sehari. Tidak boleh sakit. Selalu di bawah tekanan, dan itu berlangsung terus-menerus hingga akhir hayat, seperti lingkaran setan.

Ck ck ck. Kehidupan "keluar dari comfort zone" itu seperti neraka yang diiming-imingi surga, tetapi tentu surga itu tidak akan tiba. Sebab, sesungguhnya, surga itu ada di dekat kita, jika kita tahu seni bersyukur. 
Nah, pilih mana: bersyukur atau terus "keluar dari comfort zone" sampai mampus?

Manusia diciptakan dengan sifat dasar tidak pernah puas.
Namun, kita tidak perlu bertekuk lutut pada sifat itu.
Bersyukurlah.

Posted via Blogaway

Dimensi

Di 5 setengah meter, 12 langkah, 10 setengah detik, ada dimensi yang cuma jadi milikku. Dimensi yang sempit dan terbatas, namun membuka cerita. Cerita tentang kekaguman sejati. Cerita yang hanya dia dan aku yang tahu.


Ruangan tempat kerjaku lumayan. Kursi empuk, dikelilingi sekat hijau muda dengan komputer di sudutnya, nyamannya mirip rumah-rumahan pohon yang waktu kecil sering kubuat. Ditambah dekorasi action-figure zaman bocah, mejaku benar-benar terasa rumah sendiri.


View dari meja kerjaku.


Kebetulan, mejaku sering dilalui orang karena memang terletak di depan pintu. Mau tidak mau, aku jadi memperhatikan tiap orang yang lewat. Jadi, setelah melakukan beberapa pengamatan, aku menyimpulkan hal berikut: Tiap orang yang melewati mejaku rata-rata akan melalui jarak 5 meter atau sekitar 12 langkah dan menghabiskan waktu sekitar 10 detik sebelum menghilang dari pandanganku. 

Lima meter. Itu jarak tempuh yang cukup untuk mengagumi seseorang. Dari cara berjalannya yang anggun, gayanya melirik-lirikkan mata, atau bahkan dari caranya memegang mug. Kuakui, aku terpesona kepadanya. Tanpa sadar, aku telah menjadi pengagum rahasianya.

Dua belas langkah. Itulah yang kukenal dari sosok belakangnya. Rambut lurus sebahu terselip di balik telinganya, menjuntai-juntai manis. Terkadang ia menoleh ke samping dan memperlihatkan wajahnya yang ayu dan cool. Terkadang ia berhenti ketika ada yang menyapa. Ketika pulang kantor, selalu ia menggunakan aksesori favoritku, kacamata. Sungguh, kacamata itu membuatnya jadi makin menggemaskan.


Dia berjalan melewatiku, dan dimensiku pun tercipta.

Sepuluh detik. Itulah durasi pelepas dahagaku di antara kesibukan pekerjaan. Dimensi penuh kekaguman yang membuatku damai, tenang, tranquil. Tanpa beban. Saat sepuluh detik itu, dunia serasa berjalan dalam ultraslow motion. Napasku pun berembus-embus sangat lambat hingga aku bisa mendengar detak jantungnya, guratan-guratan pergerakan otot kaki langsingnya, bahkan detail terkecil dari kerling bola mata kehijauannya.

She's so gorgeous.

Lantas, apa yang kulakukan di sini?
Hanya memandanginya? Mengaguminya selama 10 detik? Tidak punya nyali untuk berkata-kata atau bahkan memberi tanda? 

Ya. Itulah yang kulakukan. 

Menyedihkan? Boleh jadi. Namun, begini pikirku: Ia telah menyuguhiku sebuah dimensi 12 langkah yang luar biasa. Dimensi 5 meter yang mengkrayoni rutinitas hitam-putihku. Dimensi 10 detik yang membawaku kembali kepada realita sang waktu dan kehidupan. 

Aku tidak akan merusak dimensi seberharga itu dengan kata picisan semacam "cinta". Lagi pula, sesuai nama dirinya yang berarti 'penglihatan', aku tidak mau mencemarinya dengan sesuatu yang membutakan semacam (lagi-lagi) "cinta". Gemuruh dalam rongga dada ini mungkin bahkan belum ada namanya. "Cinta" itu terlalu remeh untuk dapat dikatakan menggambarkan getar ini.

Jadi, inilah dimensi kami. Tempat kami memadu kasih tanpa saling menatap. Tempat kami saling merindukan tanpa pernah berkenalan. Tempat kami terbebas dari "cinta" yang membelenggu. 

Dan selamanya kami ingin tetap begitu.

People create their own "peace dimension"
when feel tired of their own routine.


So many occasions that the dimension is
a result from unconscious mutualism between others.